|
Corien Oranje (1963) berasal dari Belanda dan tinggal di Jakarta sejak 2003, bersama suaminya dan empat anak putra, Richard, Justin, Lennart dan Joël. Dia mengarang lebih dari 30 buku, yang semua diterbitkan dalam bahasa Belanda. Tsunami! adalah buku pertama yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
RUMAH itu berada di lingkungan yang sejuk dan asri, di komplek Gading Park View. Di sanalah Corien Oranje tinggal bersama suaminya, Dick Mak, dan tiga orang putra – Richard, Justin, Lennart dan Joel. Corien berasal dari Belanda. Ia sudah mengenal Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Dan satu setengah tahun terakhir ini ia menetap di Gading Park View. Beberapa waktu lalu, bukunya tentang tsunami di Aceh yang berjudul de Dag van de Golven, diterjemahkan dari bahasa Belanda dan diterbitkan oleh Gramedia dengan judul Tsunami. Buku ini bercerita tentang bencana tsunami dan apa yang dialami oleh orang-orang di Aceh dari sudut pandang anak-anak. Ditulis dengan gaya narasi yang membuatnya menjadi ringan untuk dibaca namun tetap sarat makna. Akhir pekan depan, 12 Mei, buku ini akan diluncurkan di North Jakarta International School, Kelapa Gading. Sengaja kami berkunjung ke kediaman Corien untuk mendapatkan informasi awal sebelum Anda datang ke acara peluncuran buku ini. Berikut kutipan perbincangan singkat kami.
Mengapa Anda dan keluarga memilih Kelapa Gading sebagai tempat tinggal di Indonesia? Begitu melihatlihat di kawasan ini kami langsung merasa cocok. Ini kawasan yang sangat lengkap. Kemana-mana dekat. Di dekat rumah kami ada rumah sakit, sekolah anak-anak juga dekat, banyak juga tempat makan. Rasanya, apa pun kebutuhan kami bisa didapatkan di dekat rumah kami.
Tapi bukankah ini kawasan yang terkenal sebagai kawasan langganan banjir? Yah, kami pernah dua kali mengalami banjir di sini. Tapi air tidak sampai masuk ke kompleks ini. Hanya saja kami jadi sulit untuk keluar rumah. Waktu kami tinggal di Jakarta Selatan, di sana juga ada kawasan-kawasan yang terkena banjir. Jadi kami pikir sama saja. Lagipula di Jakarta Selatan kami kerap mengalami masalah dengan kemacetan. Kalau di Kelapa Gading ini kemana-mana dekat.
Mari kita bicara tentang buku Anda yang baru saja diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Apa sebenarnya isi buku berjudul Tsunami ini? Beberapa minggu setelah tsunami di Aceh, saya datang ke sana. Dan tinggal di sana selama lima hari untuk berbicara dengan anak-anak yang mengalami bencana ini. Di sana banyak anak yang saya temui sudah kehilangan keluarganya. Mereka mengalami guncangan dan trauma yang berat. Salah satu anak yang saya temui terkadang, di waktu-waktu tertentu, pergi menyendiri di atas perahu yang tertambat di dermaga. Ia tidak mau didekati siapapun. Apa yang dialami oleh anak-anak itu, khususnya Dewi dan Yensi – dua orang anak yang saya temui di Banda Aceh, adalah bahan utama buku ini. Jadi saya ingin memberikan suara kepada anak-anak tersebut untuk bercerita kepada dunia tentang apa yang mereka alami, kehilangan, bencana, dan trauma dari sudut pandang anak-anak.
Lalu pesan yang ingin Anda sampaikan melalui buku ini? Kita harus belajar dari anak-anak tersebut. Bahwa, setelah bencana, segala sesuatunya tidak akan sama seperti dulu lagi. Tapi kita juga tidak boleh tinggal di belakang sana. Kita harus terus maju dengan keyakinan bahwa besok akan kembali membaik. Dan, berdasarkan pengalaman saya di sana, saya melihat cinta tanpa pamrih dan keterlibatan dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang anak.
Demikianlah perbincangan singkat kami dengan Corien Oranje di rumahnya pada Minggu sore (26/4) kemarin. Bila Anda ingin mengenal Corien lebih jauh lagi maupun tertarik dengan buku Tsunami yang ditulisnya ini, Anda bisa datang ke acara peluncuran buku tersebut. Tambahan informasi, Corien akan berada di acara itu sampai siang untuk melakukan penandatanganan buku bagi Anda yang membeli bukunya tersebut.
Star Gading, 1 mei 2009 autor: Denny Hariandja foto: Paulus
|